Sleman – Mlangi adalah desa yang telah lama dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan Islam dan budaya Jawa di Yogyakarta. Di tengah kepungan perkembangan kota, Mlangi tetap menyimpan denyut tradisi. Di sinilah pesantren-pesantren berdiri, tak hanya sebagai tempat mengaji kitab kuning, tetapi juga sebagai benteng pelestarian budaya lokal, termasuk tradisi slawatan. Di sela waktu antara salat dan belajar, para santri berkumpul untuk bershalawat dengan iringan alat musik tradisional yang khas, berbeda dengan slawatan Arab yang biasa terdengar di banyak pesantren lain.
Tradisi ngelik dalam Slawatan Jowo Mlangi yang digelar dalam menyemarakkan festival Mlangi di lapangan Yayasan Nur Iman Mlangi, Sabtu siang (10/5/2025) bukan sekadar pola musikal. Melainkan sebagai simbol pergeseran yang halus namun mendalam dari bait-bait pujian Nabi Muhammad SAW yang dilantunkan dalam pola repetitif menuju klimaks yang penuh makna.
Dalam struktur musikal Jawa, ngelik mencerminkan perubahan dan pencerahan. Ini sejatinya menjadi metafora perjalanan manusia dalam meniti hidup dari rutinitas menuju kesadaran, dan dari tradisi menuju pembaruan.
Di kalangan santri Mlangi, slawatan bukan sekadar ritual ibadah. Slawatan menjadi ruang perjumpaan antara spiritualitas dan kreativitas. Anak-anak muda dilibatkan dalam proses kreatif mulai dari penyusunan lirik, pengaturan nada, hingga penggunaan teknologi sederhana untuk mendokumentasikan dan menyebarkan karyanya ke media sosial. Inilah bentuk adaptasi tradisi dengan bahasa zaman yang menghidupkan nilai lama dalam wajah baru.
Rois Syuriah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kapanewon Gamping, KH. Ahmad Mabarun menjelaskan bahwa dalam proses pelaksanaannya, para santri muda tak hanya dilatih untuk melafalkan slawatan, tetapi juga memahami makna tiap baitnya. Mereka juga diajak untuk ikut menyusun lirik baru yang relevan dengan tantangan zaman. Misalnya, dalam beberapa pertunjukan, slawatan disisipkan pesan tentang menjaga alam, menjauhi narkoba, hingga pentingnya menghormati orang tua. Semua itu dikemas dalam bahasa Jawa halus dan musikalitas yang tetap syahdu.
“Sehingga dengan begitu, slawatan menjadi sarana dakwah yang adaptif namun tetap berakar,” tutur KH. Mabarun.
Salah satu momen penting dalam revitalisasi slawatan Mlangi terjadi ketika para santri mendokumentasikan kegiatan dan mengunggahnya ke youtube. Respons yang muncul di luar dugaan. Banyak komentar datang dari masyarakat urban hingga diaspora Indonesia di luar negeri yang rindu suasana desa dan irama budaya tanah Jawa. Dari sinilah muncul kesadaran bahwa tradisi tidak harus selalu disimpan di ruang lokal, namun bisa menjadi bagian dari wacana global.
Lebih dari sekadar tradisi lokal, Slawatan Jowo Mlangi kini telah menjelma menjadi model pendekatan baru dalam pelestarian budaya. Tidak kaku, tetapi juga tidak liar. Sebagai jembatan nilai-nilai Islam, kearifan lokal, dan dinamika global dalam satu paket ekspresi yang estetis dan menyentuh. Di dalamnya, tidak hanya mendengar pujian kepada Nabi Muhammad SAW, namun juga suara hati generasi yang tengah mencari jati dirinya.
Slawatan Jowo Mlangi dengan ngelik-nya adalah potret nyata bagaimana tradisi bisa menyesuaikan diri tanpa kehilangan jati diri. Di tengah dunia yang bergerak cepat, ngelik menjadi ruang untuk melambat, merenung, dan menemukan makna dalam setiap irama sebagai proses spiritual dan sosial yang mengakar.
Pada akhirnya, ngelik bukan hanya bagian dalam musik. Ngelik adalah cara hidup yang mengajarkan bahwa dalam hidup, selalu ada momen untuk berubah arah, naik satu tangga, atau melihat dari sudut yang berbeda. Seperti bait-bait slawatan yang berpindah nada untuk memperkaya makna, manusia pun bisa tumbuh tanpa harus meninggalkan akarnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)


