Gladhi Panatacara, Upaya Mendorong Pemuda Jadi Pewaris Tradisi Jawa

Sleman — Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Sleman menyelenggarakan pelatihan panatacara sebagai upaya regenerasi pewaris tradisi lisan budaya Jawa. Kegiatan berlangsung pada Senin–Kamis, 19–22 Mei 2025, bertempat di Pendhapa Puri Mataram, Sleman, dengan melibatkan 25 peserta dari Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Sleman.

Pelatihan ini dipandu oleh Agus Wiranto, Ketua Dewan Pengurus Daerah Paguyuban Panatacara Yogyakarta (PPY) Kabupaten Sleman, yang membawakan materi seputar teknik dasar panatacara, penggunaan bahasa dan sastra Jawa, gaya tutur dalam berbagai konteks (pepanggihan, sripah, pahargyan), busana adat Mataraman, hingga ujian praktik (paragan).

Dalam sambutan pembuka, Kepala Dispora Sleman, Heru Saptono, yang didampingi Riyang Sukrisman, Ketua Tim Kerja Kelembagaan dan Kemitraan Pemuda, menyampaikan bahwa pemuda memiliki peran strategis sebagai kekuatan moral, kontrol sosial, dan agen perubahan. Ia menekankan pentingnya memperkuat karakter, etika, dan kesadaran budaya di tengah derasnya arus modernisasi.

“Menjadi pribadi modern tidak berarti meninggalkan akar budaya. Justru tantangan kita adalah menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan kelestarian identitas budaya,” ujar Heru di hadapan peserta.

Heru juga menyoroti tantangan generasi muda saat ini yang menghadapi krisis identitas akibat budaya instan, tekanan sosial, serta pengaruh budaya asing. Ia menyayangkan generasi muda yang mampu membuat konten viral, tetapi tidak lagi mampu menyampaikan sambutan dalam bahasa Jawa krama. Fenomena ini menjadi cerminan urgensi pelestarian tradisi melalui regenerasi.

Panatacara, atau pranata adicara, bukan sekadar pembawa acara dalam adat Jawa. Ia adalah penjaga marwah budaya, penyampai nilai-nilai adiluhung, dan penata suasana dalam setiap perhelatan adat. Dalam sesi pelatihan, Agus Wiranto menjelaskan bahwa panatacara adalah seni tutur yang sarat makna filosofis, sekaligus bentuk edukasi tentang struktur sosial dan tata nilai masyarakat Jawa.

“Panatacara bukan hanya pemandu acara, tetapi juga pengemban nilai budaya yang harus disampaikan secara lisan, sopan, dan tertata. Tanpa regenerasi, seni ini akan punah,” ungkap Agus.

Selain mempelajari teknik bertutur, peserta juga dilatih untuk berkomunikasi secara santun, percaya diri, dan efektif di depan umum, baik dalam konteks adat maupun dalam kehidupan profesional. Kemampuan ini menjadi bekal penting dalam organisasi, dunia kerja, dan kehidupan sosial.

Pelatihan panatacara ini merupakan langkah konkret dalam merawat warisan budaya leluhur. Generasi muda diharapkan mampu menjadi penghubung antara tradisi dan kemajuan, dengan memanfaatkan teknologi untuk memperluas jangkauan budaya lokal.

Dengan mengikuti pelatihan ini, pemuda Sleman menunjukkan bahwa cinta budaya tidak harus bertentangan dengan kemajuan zaman. Justru dengan semangat inovasi, nilai-nilai luhur budaya Jawa dapat dihidupkan kembali dan dikenalkan ke ruang-ruang digital yang lebih luas dan relevan. (Adnan Nurtjahjo | KIM Pararta Guna Gamping)

image_pdfimage_print
Bagikan: