Latsar Bela Negara; Upaya Menjaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa

Sleman – Di tengah dinamika kehidupan modern yang penuh tantangan, Kapanewon Gamping terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga semangat kebangsaan. Salah satu wujud nyata dari komitmen itu adalah upaya seriusnya dalam mengimplementasikan nilai-nilai bela negara di lingkungan masyarakat. Bagi Gamping, bela negara bukan sekadar jargon, melainkan praktik keseharian yang harus hidup dalam setiap lapisan masyarakat.

Implementasi bela negara tercermin dalam berbagai program seperti latihan dasar (Latsar) bela negara yang berlangsung di Graha Mangesti Hanggo, Kalurahan Trihanggo, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Selasa (27/5/2025) atas inisiasi Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Sleman.

Latsar bela negara yang bertajuk mewujudkan masyarakat sadar akan bela negara untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa tersebut diikuti oleh Jagabaya, Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas), Jaga Warga, dan pemuda sejumlah 60 orang yang berasal dari 12 padukuhan se-Kalurahan Trihanggo. Dengan instruktur AKP Rochmadi dan Bripka Sugiyatno dari Kepolisian Resort Kota Sleman, Serka Sugiyono dan Serda Beny dari Komando Rayon Militer 17/Gamping yang ditugaskan oleh Komando Distrik Militer 0732/Sleman, serta Sunardi selaku Alumni Bela Negara Kementerian Pertahanan Republik Indonesia.

Kepala Jawatan Keamanan Kapanewon Gamping, Bambang Nurdianto mewakili Panewu Gamping, dalam paparan materinya menekankan bahwa tantangan kebangsaan kini tak lagi datang dalam bentuk fisik semata, melainkan melalui ancaman non-tradisional seperti radikalisme, disinformasi, hingga individualisme ekstrem.

“Kesadaran bela negara adalah benteng moral bangsa yang tumbuh dari pikiran jernih dan hati yang rela berkorban,” tuturnya.

Bambang menyebutkan kesadaran bela negara juga diterapkan dalam pengelolaan konflik sosial. Warga dilibatkan secara aktif dalam menjaga ketertiban lingkungan dan menyelesaikan persoalan secara musyawarah. Di tengah keberagaman yang dimiliki wilayah Gamping, hal ini menjadi bukti bahwa semangat persatuan dapat dijaga jika nilai-nilai bela negara benar-benar dihidupi.

Salah satu bentuk nyata adalah keterlibatan masyarakat dalam kegiatan tanggap bencana dan aksi sosial. Hal ini menjadi cermin bahwa rasa cinta tanah air tidak hanya muncul saat ada ancaman besar, tetapi juga saat kita saling tolong-menolong dalam kehidupan sehari-hari. Gamping membuktikan bahwa solidaritas lokal adalah bagian penting dari kekuatan nasional.

Perluasan implementasi bela negara dapat dilakukan melalui digitalisasi pelayanan publik, pelatihan literasi digital, dan kampanye melawan hoaks. Dalam dunia digital yang rawan provokasi, masyarakat Gamping diajak menjadi pengguna cerdas media sosial yang menjaga suasana kondusif dan tidak menyebar kebencian.

Dengan berbagai upaya tersebut, Kapanewon Gamping menjadi contoh bahwa bela negara tidak harus menunggu momentum besar. Sebab bisa dibangun lewat kesadaran kolektif, kepedulian sosial, dan kerjasama antar warga.

Dari wilayah Gamping, semangat menjaga Indonesia tetap hidup dan mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. “Bela negara bukan hanya tentang bertahan dari serangan musuh, tapi bagaimana kita menjaga desa ini tetap rukun, produktif, dan berdaya,” pungkas Bambang. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)

image_pdfimage_print
Bagikan: