Sanggar Banyu Bening Sleman: Enam Tahun Berestetika, Seni Tari Menembus Dunia

Sleman — Merayakan enam tahun perjalanannya dalam membina generasi muda pecinta seni tari, Sanggar Banyu Bening Sleman menggelar peringatan hari jadi bertema “Enam Tahun Berestetika, Seni Tari Mendunia”, Sabtu (21/6/2025) di Warung Mbah Bromo, Tempursari, Kapanewon Ngaglik.

Acara ini menjadi momentum reflektif sekaligus wujud rasa syukur atas konsistensi sanggar dalam menghadirkan karya-karya berestetika tinggi yang mengangkat seni tari sebagai sarana pembentukan karakter dan diplomasi budaya.

Kegiatan dimulai dengan doa bersama yang dipimpin oleh Sri Wahyuningsih, pendiri sanggar. Ia juga memotong tumpeng nasi kuning sebagai simbol syukur dan harapan atas keberlanjutan karya. Dalam sambutannya, Wahyuningsih menuturkan bahwa perjalanan enam tahun sanggar penuh dengan dinamika.

“Estetika tidak lahir dari hal instan. Ia tumbuh dari kesabaran, konsistensi, dan keberanian untuk terus mencipta meski dalam keterbatasan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa seni tari bukan hanya soal pertunjukan, tetapi juga cermin perjalanan batin yang membentuk karakter dan semangat hidup anak-anak muda di tengah gempuran budaya digital.

Sementara itu, Elisabeth Panti, Koordinator Sanggar Banyu Bening Sleman, menegaskan bahwa sanggar tidak hanya menjadi ruang belajar menari, melainkan juga ruang tumbuh yang memadukan disiplin, ekspresi diri, dan cinta budaya lokal.

“Kami ingin menjadi ekosistem seni yang hidup dan relevan. Tidak hanya dalam panggung fisik, tapi juga menjelajah ke panggung digital,” jelas Elisabeth.

Rangkaian acara peringatan juga diisi dengan penampilan seni dari para siswa serta uji kompetensi tari sebagai bentuk apresiasi atas proses belajar yang telah dilalui. Kegiatan ini menjadi ruang validasi capaian sekaligus pemacu semangat untuk terus berkarya.

Peringatan ini juga menandai komitmen Sanggar Banyu Bening dalam melahirkan regenerasi seniman lokal, mendorong mereka untuk tampil percaya diri di hadapan publik serta menjadikan seni tradisi sebagai bagian dari dialog budaya global.

Dengan tema “Enam Tahun Berestetika, Seni Tari Mendunia”, sanggar ini terus menegaskan identitasnya sebagai rumah kreatif yang merawat nilai-nilai luhur budaya Nusantara—bahwa lewat gerak, irama, dan dedikasi, seni tari Indonesia mampu berdiri sejajar di panggung dunia. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)

image_pdfimage_print
Bagikan: