Suran Mbah Demang 2025: Merawat Warisan Budaya Takbenda Adat dan Tradisi

Sleman – Sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) kategori adat dan tradisi yang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia sejak 2016, upacara adat Suran Mbah Demang Cokrodikromo digelar Pemerintah Kalurahan Banyuraden untuk mengenang perjuangan hidupnya, Kamis (3/7/2025).

Upacara adat yang berlangsung di Rumah Tabon Modinan Ki Demang Cokrodikromo pada malam 8 syuro tersebut dihadiri Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa didampingi Panewu Gamping, Suyanto, Kepala Kepolisian Sektor Gamping, AKP Bowo Susilo, dan Komandan Koramil 17/Gamping, Mayor Armed Istachori, dan Lurah Banyuraden, Sudarisman.  

Prosesi diawali dengan serah terima pusaka dari Lurah Banyuraden, Sudarisman kepada perwakilan Trah Ki Demang Cokrodikromo, Banu Febrianto berupa Kitab Ambya, Tombak, Bendhe serta foto Mbah Demang Cokrodikromo dan foto Eyang Ki Juru Permana, guru spiritual Sri Sultan Hamengku Buwono IX beserta pusakanya, Kyai Blencong.

Usai menyerahkan pusaka milik Ki Demang Cokrodikomo tersebut, Sudarisman selaku Lurah Banyuraden melepaskan sepasang burung merpati putih yang melambangkan kesucian hati, ketulusan niat, dan harapan akan perdamaian serta harmoni dalam kehidupan masyarakat. Dilanjutkan menyebarkan ‘Udik-Udik’ berupa beras kuning, bunga mawar dan uang logam sebagai simbol berbagi rezeki dan berkah kepada masyarakat.

“Dengan pelepasan merpati putih ini, diharapkan nilai-nilai luhur warisan Mbah Demang tetap hidup dan menyatu dalam perilaku sehari-hari warga Banyuraden,” ujarnya Sudarisman.

Kirab budaya diikuti oleh Bregada Keprajuritan Kaliabu, Bregada Keprajuritan Wirorejo Biru, Bregada Keprajuritan Pesanggrahan, Bregada Pamong Banyuraden, Bregada Keprajuritan Banyumeneng, Bregada Ranu Wira Patuk, Bregada Keprajuritan Sumber Arum Sumberan, serta Bregada Keprajuritan Nogosaren yang mengawal gunungan berupa sayuran dan buah hasil bumi yang diperebutkan masyarakat dengan mitos mendapatkan berkah.

Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa menyebutkan pihaknya mengapresiasi gelaran upacara adat tahunan ini dalam melestarikan tradisi dan warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun. Kegiatan itu pun memberikan edukasi bagi generasi muda tentang tradisi lokal yang memiliki nilai-nilai sejarah dan budaya yang sangat berharga.

“Upacara adat ini bukan sekadar seremoni tahunan, namun merupakan warisan budaya luhur yang harus dijaga bersama. Tradisi Suran Mbah Demang mencerminkan penghormatan kepada leluhur, sekaligus menjadi pengingat bagi masyarakat untuk senantiasa menjaga nilai-nilai kebaikan, kerukunan, dan gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat,” katanya.

Sementara itu, Panewu Gamping, Suyanto menyebutkan Pemerintah Kapanewon Gamping akan terus mendukung kegiatan-kegiatan adat dan budaya yang mendorong pelestarian kearifan lokal dan memperkuat identitas kebudayaan daerah.

“Warisan budaya seperti ini adalah jati diri kita, yang tidak hanya menjadi kebanggaan lokal, tetapi juga bagian dari kekayaan budaya bangsa,” tandasnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)

image_pdfimage_print
Bagikan: