Sleman – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) akan menerapkan pendekatan deep learning (pembelajaran mendalam) di semua jenjang pendidikan dasar dan menengah mulai tahun ajaran 2025/2026. Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 13 Tahun 2025, sebagai penyempurnaan dari Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menjelaskan bahwa pembelajaran mendalam menekankan pendekatan integratif dan berkesadaran. Materi pembelajaran tidak lagi diajarkan secara terpisah, tetapi dikaitkan dengan tema relevan, bahkan lintas mata pelajaran.
“Pendekatan ini memungkinkan satu pokok bahasan terhubung dengan berbagai tema, termasuk lintas disiplin ilmu,” ujar Mu’ti dalam Seminar Nasional Pendidikan bertajuk “Pembelajaran Mendalam: Konsep dan Implementasi” di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Sabtu (26/7/2025).
Mu’ti menegaskan bahwa pembelajaran mendalam dapat diintegrasikan dengan kurikulum sebelumnya, seperti Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka. Namun, pendekatan ini memiliki keunikan, yakni fokus pada pendalaman materi secara vertikal, bukan perluasan horizontal.
“Penerapannya mengharuskan penyesuaian muatan setiap mata pelajaran,” tegasnya.
Menurut Mu’ti, pembelajaran mendalam tidak hanya bertujuan meningkatkan pemahaman konseptual, tetapi juga mengubah cara berpikir siswa. Guru berperan sebagai fasilitator yang mendorong siswa menghubungkan materi dengan pengalaman nyata.
Pendekatan ini didasarkan pada tiga prinsip, yaitu mindful, di mana pembelajaran berlangsung dengan kesadaran penuh, menghargai gaya belajar masing-masing siswa. Berikutnya adalah meaningful, di mana materi diajarkan secara kontekstual dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Terakhir adalah joyful, di mana proses belajar menyenangkan tanpa mengorbankan kedalaman materi.
“Joyful bukan sekadar hiburan, tetapi kepuasan siswa saat memahami pelajaran,” jelas Mu’ti.
Tujuan akhirnya adalah mencetak lulusan berkarakter kuat: cerdas akademis, beriman, berakhlak, mandiri, kreatif, kritis, kolaboratif, komunikatif, serta sehat fisik dan mental.
Ketua Tim Pengembang Pembelajaran Mendalam Kemendikdasmen, Suyanto, menyatakan bahwa pendekatan ini menjadi solusi atas krisis pembelajaran di Indonesia. Meski akses pendidikan sudah merata, kualitasnya masih rendah, terlihat dari skor literasi dan numerasi dalam asesmen internasional seperti PISA.
“Guru kerap terbebani tugas administratif, mengurangi fokus pada pengajaran yang esensial,” ujarnya.
Suyanto menekankan bahwa pembelajaran mendalam bukan kurikulum baru, melainkan penyempurnaan pendekatan sebelumnya seperti CBSA dan PAKEM. Metode ini mendorong integrasi olah pikir, hati, rasa, dan raga secara holistik.
“Belajar harus bermakna, bukan sekadar mengejar nilai,” tegasnya.
Atase Pendidikan KBRI Canberra, Yuli Rahmawati, menegaskan bahwa pembelajaran mendalam memerlukan dukungan ekosistem pendidikan yang kuat. Guru harus difasilitasi untuk menjadi kreatif, bukan sekadar pelaksana administratif.
“Pendidikan guru, termasuk PPG, harus disesuaikan dengan pendekatan ini,” ujarnya.
Yuli juga menekankan peran teknologi dalam memperluas akses pembelajaran dan kolaborasi antarsekolah.
“Transformasi pendidikan harus melibatkan semua pihak: guru, orang tua, dunia usaha, dan industri,” pungkasnya.
Kebijakan ini diharapkan mampu meningkatkan mutu pendidikan Indonesia menuju visi Indonesia Emas 2045. (Athiful/KIM Depok)


