Sleman – Ratusan warga Padukuhan Penen mengenakan pakaian adat Jawa mengikuti rangkaian upacara adat wiwitan, Rabu (30/7/2025). Mereka berjalan beriringan dari Aula Masjid Baitul Hasanah Penen menuju pematang sawah di selatan area Padukuhan Penen.
Warga Padukuhan Penen, Donoharjo, Ngaglik, melaksanakan tradisi wiwitan, sebuah upacara adat sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen padi yang melimpah.
Wiwitan dimulai dengan doa bersama yang dipimpin oleh mbah kaum atau pak rois, dilanjutkan dengan prosesi memetik padi secara simbolis. Warga kemudian bersama-sama menikmati kenduri berupa nasi gurih, ingkung ayam, pisang raja, dan aneka sesaji lainnya. Tradisi ini juga disertai ritual membuang bucalan (sesaji penolak bala) di sudut sawah sebagai simbol harapan agar terhindar dari bencana dan hasil panen selalu baik.
Selain kenduri, warga menyiapkan perlengkapan sakral seperti tumpeng serta simbol ron-ronan (daun-daunan) yang sarat makna, seperti totok salak sebagai lambang keberanian menghadapi kesalahan, daun kluwih sebagai harapan menjadi pribadi unggul, dan janur sebagai simbol cahaya dan surga.
Menurut salah satu tokoh budaya, Winardi yang juga menjabat sebagai Ketua RW 34 Padukuhan Penen, tradisi wiwitan dipercaya telah ada jauh sebelum masuknya agama ke tanah Jawa.
Kata wiwitan sendiri berasal dari kata wiwit, yang berarti “memulai” atau “mengawali” musim panen. Selain bentuk syukur, upacara ini juga merupakan sarana mempererat kebersamaan warga dan menanamkan nilai-nilai kearifan lokal.
Winardi juga menjelaskan bahwa Dusun Penen merupakan tempat lahirnya banyak pemuka masyarakat yang menjunjung tinggi kerukunan, tata krama, serta nilai-nilai keagamaan.
“Warga kami rukun, bekerja siang dan malam, dan menjunjung musyawarah dalam menyelesaikan perbedaan,” ujarnya.
“Wiwitan juga mengandung makna spiritual mendalam melalui konsep sangkrip atau sangkan paraning urip, bahwa manusia tidak bisa lepas dari lingkungan yang telah diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Bahwa bumi minangka sedulur singkep artinya bumi merupakan saudara. Di dalam bumi terdapat sumber daya alam yang diperuntukan untuk kehidupan masyarakat,” sambung Winardi.
Sementara itu, Dukuh Padukuhan Penen, Maryanto mengajak masyarakat untuk memanjatkan puji syukur atas semua rezeki yang terlimpah bagi seluruh masyarakat dalam bentuk apapun.
“Kegiatan ini merupakan perlambang kebersamaan seluruh masyarakat, bukan hanya saat berjuang namun saat bahagia dan saat panen juga bersama,” katanya.
“Semoga rezeki yang Ibu terlimpah menjadi rezeki yang barokah dan semoga dapat menjadi kegiatan yang berkelanjutan ditahun mendatang,” ungkap Maryanto. (Endarwati/KIM Donoharjo Ngaglik)


