Titik Kumpul Cabai Tempel: Jaga Stabilitas Harga dan Lindungi Petani dari Spekulan

Sleman — Menjelang pukul empat sore, suasana di STA (Sub Terminal Agribisnis), Dinas Pertanian, Pangan dan Peternakan Kabupaten Sleman di Tempel mulai hidup. Satu per satu petani cabai berdatangan membawa hasil panen dari ladang mereka. Lokasinya berada di Kalurahan Lumbungrejo, tepat di sebelah timur Lapangan Olahraga Desa. Tempat ini telah menjadi titik temu penting bagi denyut ekonomi cabai di wilayah Tempel dan sekitarnya.

Setibanya di STA, cabai ditimbang oleh petugas. Petani kemudian menerima tanda bukti penerimaan. Proses berlanjut dengan penyortiran dan pemilahan cabai berdasarkan mutu, sebuah tahapan penting yang menentukan nilai jual. Cabai yang telah terkumpul tidak langsung dijual di tempat, melainkan diikutkan dalam lelang jarak jauh yang terpusat di Kapanewon Pakem.

Hasil lelang biasanya sudah dapat diketahui pada malam hari, antara pukul 20.00 hingga 20.30 WIB. Dari sinilah harga terbentuk secara lebih adil dan transparan. Mardi, petugas TPA, saat ditemui pada Sabtu, 13 Desember 2025, menjelaskan bahwa tempat pengumpulan cabai ini buka setiap hari tanpa libur. Pengecualian hanya pada Hari Raya, itupun telah diberitahukan jauh hari sebelumnya kepada para petani.

Menariknya, TPA ini tidak mengambil keuntungan. Tujuan utamanya adalah melindungi petani agar tidak menjadi korban permainan harga oleh spekulan cabai. Petani pun diberi keleluasaan: hasil penjualan dapat diambil malam itu juga, keesokan harinya, atau saat mereka kembali menyetor cabai. Cabe yang terkumpul utamanya untuk keperluan pasar lokal, sisanya diambil oleh ekspedisi dan diangkut dengan truk untuk memenuhi pasar cabai di Jakarta.

Pada masa panen raya, cabai yang terkumpul bisa mencapai dua ton per hari. Saat ini, volume harian berkisar antara 700 kilogram hingga satu ton. STA Tempel pun bukan sekadar tempat transaksi, namun juga jendela keterbukaan harga cabai bagi para petani.

“Fungsi utama kami adalah menjaga harga jual cabai agar tetap stabil dan menguntungkan petani. Dengan sistem lelang terpusat, permainan harga oleh tengkulak bisa diminimalisir, dan petani mendapatkan harga yang paling layak untuk kerja keras mereka,” ujar Mardi. (Sadhono Hadi / KIM Senyum Tempel)

image_pdfimage_print
Bagikan: