Sleman — Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sleman bersama sejumlah elemen persyarikatan menggelar kegiatan Panen Raya Talas Pratama dan Sarasehan pada Minggu (18/1/2026). Kegiatan strategis ini dipusatkan di lahan milik Sudarsono yang berada di kawasan Puri Mataram, Drono, Tridadi, Sleman. Momentum ini menjadi tonggak penting dalam penguatan sektor pertanian berbasis komunitas yang dikembangkan oleh Muhammadiyah di wilayah Kabupaten Sleman.
Talas Pratama dipilih sebagai komoditas unggulan karena memiliki potensi ekonomi yang sangat menjanjikan serta relatif mudah dibudidayakan oleh para petani lokal. Selain sebagai bahan pangan alternatif yang sehat, komoditas ini mampu dikembangkan menjadi berbagai produk olahan dengan nilai tambah yang tinggi. Melalui kegiatan ini, Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM) Sleman berupaya keras mendorong kemandirian ekonomi petani sekaligus memperluas jejaring pemasaran hasil pertanian ke skala yang lebih luas.
Prosesi panen diawali dengan doa bersama dan penjelasan teknis mengenai budidaya Talas Pratama yang dipandu oleh Sartiman dari MPM PDM Sleman bersama petani pengelola lahan, Sudarsono. Sejumlah tokoh dan pakar turut hadir menyaksikan keberhasilan panen ini, di antaranya pakar talas dari akademisi UGM Wagiman, Ketua MPM PWM DIY Agus Amin Syafuddin, serta perwakilan dari MPM PP Muhammadiyah Adib Nurhadi. Kehadiran para tokoh ini mempertegas dukungan organisasi terhadap gerakan kedaulatan pangan nasional.
Ketua PDM Sleman, Arif Sulistyo, dalam sambutannya menekankan bahwa keberhasilan panen ini merupakan buah dari kerja keras dan kolaborasi lintas sektoral. Ia menyatakan bahwa tantangan pangan masa depan harus dijawab dengan langkah nyata di lapangan melalui pemberdayaan petani secara langsung. Sinergi antara organisasi keagamaan, akademisi, dan pemerintah daerah menjadi kunci utama agar petani tidak hanya terampil dalam menanam, tetapi juga berdaya secara ekonomi.
“Sangat penting adanya sinergi yang kuat antara persyarikatan, para petani di lapangan, dan pemerintah dalam mewujudkan ketahanan pangan serta kemandirian ekonomi umat. Kami ingin petani Muhammadiyah tidak hanya menghasilkan komoditas, tetapi juga menjadi pemain utama dalam rantai ekonomi pangan yang adil dan berkelanjutan,” ujar Arif Sulistyo di hadapan para peserta panen raya.
Dukungan serupa juga mengalir dari pemerintah setempat melalui Lurah Tridadi, Sri Hartatik, yang mengapresiasi pemanfaatan lahan produktif di wilayahnya. Setelah prosesi panen selesai, kegiatan dilanjutkan dengan agenda sarasehan di Resto Puri Mataram. Ruang dialog ini menjadi tempat berbagi pengalaman antara petani binaan JATAM Sleman dengan para akademisi untuk membahas strategi pengembangan produk talas dari hulu hingga hilir agar lebih berdaya saing di pasar nasional.
Muhammadiyah Sleman berharap model pemberdayaan petani yang terintegrasi ini dapat terus dikembangkan dan direplikasi di berbagai wilayah lainnya di Indonesia. Kegiatan ini tidak hanya dipandang sebagai ajang memetik hasil bumi, tetapi juga menjadi wahana konsolidasi gagasan untuk membangun sektor pertanian yang berkelanjutan dan berpihak pada kesejahteraan petani. Dengan keterlibatan aktif SPPG Sariharjo sebagai penyerap hasil tani, ekosistem ekonomi yang mandiri kini mulai terbentuk nyata di bumi Sleman. (Arief Hartanto/KIM Kertomandiri)


