Sleman — Peran panatacara sebagai pilar kebudayaan sekaligus penjaga tata nilai di masyarakat kembali diperkuat melalui pengukuhan pengurus Dewan Pimpinan Cabang Paguyuban Panatacara Yogyakarta (DPC PPY) Kapanewon Tempel. Prosesi yang berlangsung di Pendopo Kapanewon Tempel, Sleman, pada Senin (9/2/2026) ini menandai babak baru bagi organisasi profesi penata acara tersebut untuk masa bakti 2026–2029. Agenda ini menekankan pentingnya regenerasi dan profesionalisme panatacara dalam menjaga luhurnya bahasa serta sastra Jawa di tengah dinamika zaman.
Panewu Tempel, Dakiri, secara resmi mengukuhkan kepengurusan yang kini dinahkodai oleh Sih Budi Daryanto sebagai Ketua. Dalam arahannya, Dakiri menyoroti posisi panatacara yang hadir dalam hampir setiap fase kehidupan masyarakat, mulai dari upacara kelahiran hingga prosesi kematian. Menurutnya, panatacara bukan sekadar pembawa acara teknis, melainkan agen komunikasi yang memikul tanggung jawab moral untuk memberikan edukasi nilai budaya secara halus kepada publik.
“Panatacara hadir di hampir semua fase kehidupan masyarakat, dari kelahiran, pernikahan, hingga kematian. Di situlah nilai budaya disampaikan secara halus namun bermakna. Karena itu, panatacara harus terus diasah agar mampu menjadi teladan dalam berbahasa dan bersikap. Kami mendorong PPY untuk terus aktif bersinergi dengan pemerintah dalam pelestarian bahasa dan sastra melalui berbagai pendampingan di komunitas,” ujar Dakiri saat memberikan sambutan.
Ketua DPD PPY Kabupaten Sleman, Agus Wiranto, yang turut menyaksikan pengukuhan tersebut, memberikan pesan tajam terkait kemandirian organisasi. Ia mengingatkan para pengurus di tingkat kapanewon agar tidak menjadikan keterbatasan anggaran sebagai alasan untuk berhenti berkarya. Agus mendorong para pengurus baru untuk segera menyusun program kerja melalui Rapat Kerja Cabang (Rakercab) dengan fokus utama pada penjaringan bakat-bakat muda agar tradisi ini memiliki penerus yang kompeten.
“Organisasi jangan sampai loyo karena soal dana. Jika dana belum ada, jangan berhenti bergerak. Carilah alternatif, bangun jejaring, dan tetap jalankan program yang berdampak. Kita harus fokus pada regenerasi, karena masa depan panatacara sangat bergantung pada keterlibatan generasi muda. Perlu kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk media, agar panatacara tidak hanya lestari, tetapi juga tetap relevan dengan zaman,” tegas Agus Wiranto kepada pengurus baru.
Struktur kepengurusan DPC PPY Tempel periode ini diperkuat oleh sejumlah sosok berpengalaman, di antaranya Abdullah Shodiq sebagai Paranpara, Estri Putantri di posisi Sekretaris, serta Wakini sebagai Bendahara. Organisasi ini juga dilengkapi dengan bidang khusus pengembangan sumber daya manusia dan diklat untuk memastikan kompetensi para anggotanya tetap terjaga sesuai standar etika profesi yang berlaku di Yogyakarta.
Melalui kepengurusan yang baru dikukuhkan ini, PPY Tempel diharapkan bertransformasi menjadi wadah yang inklusif dan adaptif. Kehadiran organisasi ini diharapkan mampu mencetak panatacara profesional yang tidak hanya ahli secara teknis dalam memandu acara, tetapi juga memiliki karakter kuat sebagai pelestari budaya Nusantara yang bermartabat di wilayah Kapanewon Tempel dan sekitarnya. (SBD/KIM Senyum Tempel)


