Sleman — Bagi sebagian orang, membatik membutuhkan kedua tangan yang terampil. Namun, bagi Trimah, keterbatasan fisik sejak lahir bukan alasan untuk berhenti berkarya. Di rumahnya di Jalan Gabus 8 Nomor 19, Yogyakarta, Rabu (30/9/2026), Trimah ditemani putra semata wayangnya, Afnan, menyambut kedatangan KIM Senyum Tempel. Di tempat inilah ia menjalankan kegiatan membatik yang dinamainya Batik Samparan.
Trimah berasal dari Magelang dan mulai belajar membatik sejak 2010. Hal yang membuat aktivitas membatiknya berbeda adalah cara ia menggunakan kedua kakinya untuk bekerja. Ia tidak ingin peralatan membatiknya dimodifikasi. Korek api, kompor, minyak, canting, hingga peralatan lainnya tetap menggunakan peralatan yang lazim digunakan pembatik pada umumnya.
Trimah bahkan mampu menyalakan korek dan kompor, mengisi minyak, hingga mengganti sumbu kompor secara mandiri. Tekadnya sederhana, sebisa mungkin seluruh kebutuhan membatik dapat ia lakukan sendiri.
“Kalau saya bisa mengerjakan dengan kaki, mengapa harus dimodifikasi?” ujar Trimah, menggambarkan prinsip yang dipegangnya dalam berkarya.
Sebelum menekuni batik, Trimah sempat belajar menjahit menggunakan mesin. Ia bahkan telah memiliki sertifikat keterampilan menjahit. Namun, bidang tersebut ternyata tidak menarik minatnya. Rasa penasaran justru membawanya mengenal dunia batik.
Pilihan itu tidak terlepas dari nasihat sang ibu. Menurut Trimah, ibunya selalu mendorong agar, meskipun memiliki keterbatasan fisik, ia tetap memiliki keterampilan. Dengan keterampilan tersebut, ia tidak harus bergantung pada jenis pekerjaan yang umumnya tersedia bagi orang lain.
Pesan tersebut tampaknya melekat kuat hingga kini. Keterampilan membatik menjadi bagian penting dalam kehidupan Trimah. Perjalanannya tentu tidak selalu mudah. Sebagai seorang ibu, konsentrasinya ketika membatik juga dipengaruhi aktivitas Afnan yang masih membutuhkan perhatian.
Trimah mengaku lebih tenang membatik ketika suaminya telah pulang bekerja dan dapat bergantian mengasuh Afnan. Waktu ketika Afnan bersekolah juga menjadi kesempatan baginya untuk menyelesaikan pekerjaan.
Ada kalanya suasana hati tidak mendukung untuk membatik. Namun, ketika pesanan harus diselesaikan, Trimah tetap berusaha bekerja. Dukungan suami menjadi salah satu kekuatan baginya untuk terus menjalankan aktivitas tersebut.
Afnan sendiri mulai menunjukkan ketertarikan terhadap kegiatan membatik yang dilakukan ibunya. Jika kelak sang anak benar-benar berminat, Trimah tidak keberatan untuk mengajarinya membatik.
Lebih dari sekadar berkarya, Trimah ingin keterampilannya dapat diteruskan kepada generasi berikutnya. Ia berharap anak-anak muda tertarik mempelajari batik. Karena itu, rumahnya terbuka bagi siapa saja, khususnya anak-anak muda yang ingin belajar membatik.
Bagi Trimah, karya yang dikerjakan dengan kaki bukan sekadar menghasilkan kain batik. Ada pesan yang ingin disampaikan kepada orang lain bahwa keterbatasan bukan berarti seseorang tidak dapat berkarya dan memberikan manfaat.
“Harapan saya, karya dengan kaki, kalau dikerjakan bersama hati, bisa memotivasi banyak orang,” katanya.
Pada akhirnya, Trimah tidak menempatkan kemampuan membatiknya semata-mata sebagai pekerjaan atau keterampilan. Baginya, ada sesuatu yang lebih mendasar yang ingin dipertahankan melalui aktivitas tersebut.
“Kemampuan membatik, bagi saya juga sebagai usaha untuk tetap menjaga harga diri,” pungkasnya. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)


