Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada tanggal 8 Maret 2019 dirayakan oleh kaum perempuan di berbagai belahan dunia dengan menyuarakan kesetaraan gender.
Para perempuan di berbagai penjuru dunia menyuarakan kesetaraan gender pada peringatan Hari Perempuan Internasional atau International Women’s Day dengan berbagai aksi yang dilakukan. Media masa maupun elektronik pun turut memberitakan perayaan tersebut.
Berkenaan dengan peringatan tersebut 3 perempuan Sleman, Yogyakarta, menceritakan serta memberi tanggapan tentang peradaban perempuan di masanya. Tiga wanita tersebut, yaitu Damarsih, Djati Prasetyani Hadi, dan Natalia Indra Wahyuni.
Damarsih wanita kelahiran 1936 yang kini berusia 83 tahun ini menceritakan pengalaman hidupnya menjadi seorang kasir dan bergerak di bidang perbendaharaan. Runtutan perjalanan hidupnya tergambar sebagai perempuan yang pantang menyerah.
Ia menempuh jenjang karir yang cukup baik sehingga tak jarang perusahaan tempatnya bekerja mempertahankannya untuk tidak resign berkat kinerjanya yang selalu memuaskan. Damarsih percaya setiap perjuangan dan niat yang tulus akan membuahkan hasil yang tak akan mengkhianati empunya.
Ia mengingat bahwa kehidupan perempuan dahulu tak seperti sekarang yang mudah untuk mengekspresikan diri di berbagai bidang. Ia berkisah bahwa tak semua wanita dahulu diperbolehkan untuk mengenyam pendidikan dengan baik hingga tingkat pendidikan yang diinginkan. “Sia-sia saja jika kesempatan itu tidak digunakannya dengan baik,” ucap Darmasih saat ditemui Selasa (12/3/2018) di kediamannya.
Di kesempatan yang sama, Djati Prasetyani Hadi perempuan asli Sleman yang juga merupakan dosen komunikasi di salah satu kampus komunikasi di Sleman, menyampaikan sudut pandangnya tentang perempuan dalam dunia bisnis. Djati membahas dunia bisnis yang saat ini sudah memasuki industri 4.0 yang mana pembahasan ini muncul dari data yang sempat ia baca dan telaah dari beberapa sumber.
Disampaikannya bahwa ada jarak pengguna internet berdasarkan gender yang mana faktanya perempuan lebih rendah 12 persen dibandingkan laki-laki. Hal ini menjadikan masalah baru bagi pelaku komunikasi khususnya yang bergender perempuan. Mereka harus melakukan beberapa treatment terhadap dirinya khususnya untuk berusaha menemukan penyelesaian mengurangi perbedaan yang bukan hanya akses digital namun perbedaan keterampilan digital di era digital.
Djati yang juga berprofesi sebagai dosen wirausaha, menyebutkan bahwa jumlah wirausaha Indonesia belum sampai 2% dari total penduduk Indonesia, tapi 60% dari pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) adalah perempuan. Kemudian tantangan kewirausahan itu muncul terkait dalam keberlanjutan kewirausahaan. Hal ini dikarenakan mereka tidak memiliki perencanaan bisnis yang cukup matang, pemasaran belum menyentuh pada media-media yang lebih efektif dan lebih murah, serta pemasaran.
“Dalam konteks pemasaran itu, ketika kita berbicara tentang mayoritas pelaku UMKM adalah perempuan dan kemudian dikaitkan dengan data pertama tadi yang mengatakan lebih sedikit perempuan pelaku digital dalam dunia pemasaran, maka ini menjadi tantangan penting ya. Kalau kita ingin bicara masalah mengurangi atau meminimalisir masalah atau tantangan keberlanjutan dari wirausaha itu ya kan, maka mereka harus berpikir untuk meningkatkan skill pemasaran online mereka. Salah satunya kemudian meningkatkan skill digitalisasi mereka,” jelas Djati.
Sisi lain, gadis cantik yang akrab disapa Natalia, seorang mahasiswi bidik misi kampus komunikasi swasta di Sleman punya pandangan lebih luas tentang peran perempuan. Perempuan yang sembari bekerja sebagai vocal coach di agensi musik ini, menilai saat ini pekerjan apapun dalam bidang apapun, pasti ada perempuan di dalamnya. Ungkapan Natalia tersebut juga dibenarkan dengan pribadi nya yang terkenal cukup komplit dengan talenta yang dimilikinya. Selain pembawaan diri yang terbilang supel, di anak seusianya Natalia adalah anak yang memiliki prinsip kuat dalam mewujudkan sebuah visi.
“Saat ini sudah banyak perempuan yang aware terhadap pendidikan ya. Bahkan mereka berjuang keras buat dapat beasiswa, enggak cuma S1 bahkan sampai doktor maupun tingkat pendidikan yang lebih tinggi lainnya. Enggak cuma di dalam negeri tapi juga di luar negeri. Karena memang persaingan kan semakin ketat ya. Apalagi di era 4.0 ini, jadi kalau kita terutama perempuan nih kalau enggak memperlengkap diri, bisa ketinggalan banget loh,” ungkap Natalia tentang perempuan di era sekarang. (Rep Rara)


