Hindari Konflik, Wujudkan Pemilu Damai 2019

Pemilu belakangan ini menjadi perbincangan panas di mata masyarakat, begitu pula bagi tiga warga Sleman ini. Ditemui Kamis (21/3/2019), ketiganya menganggap pemilu sebagai sarana menyampaikan pendapat yang mana setiap orang memiliki hak atas pemikirannya masing-masing.

Leona Diani Putri gadis Desa Sendangadi Kecamatan Mlati yang tahun ini merupakan tahun pertamanya ikut pemilu, menyampaikan belum pernah mendengar konflik serius yang terjadi di lingkungannya terkait pemilu. Tahun ini pun sama, di lingkungan tinggalnya tak ada permasalahan tentang politik apapun sama sekali. Baginya, pemilu damai adalah pemilu yang tetap menghargai pilihan setiap manusia.

Sedangkan Rohma Mahasantri Pondok Pesantren (Ponpes) Inayatullah menyatakan pendapatnya tentang keadaan Ponpesnya yang tak ada keributan tentang perpolitikan. Pun, tak ada mahasantri dan santri yang menggebu untuk menampakan siapa pilihan mereka. Ia beranggapan mahasantri dan santri di Ponpesnya lebih bersikap netral, tak ada yang menampakan siapa pilihan mereka.

“Karena pak Kiai juga mendawamkan dan bersikap netral serta mempersilakan santrinya memilih sesuai hati nurani masing-masing. Walaupun kita tidak terlalu sering memperbincangkan politik tapi tetap mengikuti perkembangan politik,” kata Rohma.

Senada dengan kedua narasumber, Maria Lucia Endang Purwandini mengungkapkan hal yang sama bahwa di lingkungan tinggalnya belum pernah terjadi konflik dan permusuhan akibat pemilu. Hanya saja, perbincangan dari akun Youtube yang ia tonton justru terasa semakin memanas hingga melibatkan banyak orang dari banyak agama, suku, dan ras saling menghujat lawan pilihan.

“Saya rasa tak ada manfaatnya jika memperdebatkan hal-hal semacam itu. Selama saya di Sleman ini belum pernah mendengar ada pertengkaran dan permusuhan antar warga yang beda pilihan. Jadi saya rasa kalau ada yang mempermasalahkan pilihan lawan apalagi sampai bermusuhan terlebih dengan tetangga, itu akan merusak hubungan baik yang sudah kita pelihara sekian lamanya. Sayang sekali jika gara-gara hal seperti itu dapat memecah-belahkan pertemanan dan persaudaraan,” ujar wanita yang akrab dipanggil Luci ini.

Warga Sleman sendiri mendapat imbauan dari Bupati Sleman, Sri Purnomo, bahwa pemilu yang sehat adalah pemilu yang bebas dari nilai-nilai negatif. Walaupun pilihan satu sama lain berbeda-beda, masayarakat tetap saling rukun dalam bermasyarakat, tak ada perselisihan ketika bertemu dengan lawan pilihan, dan tetap bekerjasama dengan baik dalam hidup bersosial.

“Maka dari itu, mari kita menjadi contoh pemilu damai dengan melawan hoax, melawan politik uang menuju Pemilu Damai 2019,” tukas Sri Purnomo di sela-sela Deklarasi Pemilu Damai 2019, Kamis (21/3/2019) di Gedung Serbaguna Sleman. (Rep Rara)

image_pdfimage_print
Bagikan: