Sleman – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman bekerja sama dengan pengurus Ecoenzym Nusantara mengadakan sosialisasi pengelolaan sampah organik dengan teknologi ecoenzym pada hari Jumat (28/1/2022).
Kegiatan yang digelar di ruang rapat UPTD Pelayanan Persampahan DLH Kabupaten Sleman ini dimulai pukul 09.00 wib dan diikuti oleh pengurus JPSM, PKK dan Pegawai UPTD persampahan.
Kegiatan dipimpin langsung oleh Epiphana Kristiyani, selaku Kepala DLH Sleman yang memberikan ulasan tentang latar belakang kegiatan sosialisasi tersebut yang berasal dari permasalahan persampahan di Sleman.
“Dengan Armada Dump truk sebanyak 34, 28 TPS3R dan 247 Bank Sampah perlu dievaluasi dari segi kemanfaatannya yang baru bisa menyelesaikan sampah organik sebesar 3 ton per hari. Adapun yang belum tertangani sebanyak 200 ton per hari. Demikian juga dengan sampah anorganik, data yang diperoleh menunjukkan besaran 29 ton per hari sampah yang tertangani sementara yang belum tertangani sebesar 200 ton per hari,” jelas Epiphana.
Epiphana menambahkan, kalau asumsi setiap orang buang sampah sebanyak 0,65 kg orang/hari dan menghasilkan 6 ton/hari, maka kemana sampah yang lain. Perda no 1/ 2016 tentang Perlindungan dan Pengelolaan lingkungan Hidup tidak berjalan dengan baik artinya pengelolaan sampah belum dilakukan secara serius.
“Saya sengaja mengundang PKK dengan harapan ibu-ibu lebih aktif berpartisipasi dalam pengelolaan sampah karena perubahan pola pikir dan perilaku dalam pengelolaan sampah belum secara masif dilakukan yaitu sampah tidak biasa dipilah,” tandas Epiphana.
Melalui PKK, Ephipana berharapa ibu-ibu dapat ikut membantu pengelolaan lingkungan, dimulai dari lingkup keluarga dengan melakukan edukasi kepada anak. “Sehingga ke depannya kegiatan keluarga dapat berimbas pada pembiasaan masyarakat memilah sampah,” harap Epiphana.
Hijrah Purnama, Ketua JPSM Sehati Kabupaten Sleman menyambut baik kegiatan dari DLH berkaitan dengan pengelolaan sampah organik, meskipun basic dari Bank Sampah memang bertumpu pada pengelolaan sampah anorganik, dan sampai saat ini, ia mengatakan bahwa sudah ada sekitar 50 Bank Sampah yang bergerak di pengelolaan sampah organik.
Hijrah juga menjelaskan tentang kegiatan inovasi yang dapat dilakuan yaitu dengan mendirikan Sekolah Sampah. “Sekolah sampah udah berdiri rintisannya dan ke depannya materi yang disampaikan di sekolah sampah dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, termasuk pengelolaan sampah organik dengan teknologi Skala rumah tangga,” ungkap Hijrah.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi ecoenzym (EE) yang disampaikan oleh relawan ecoenzym Nusantara dengan menyampaikan materi tentang modul belajar EE, manfaat EE dalam kehidupan sehari hari dan praktek langsung pembuatan EE.
Istiaji dari relawan EE Nusantara menyampaikan filosofi kegiatan EE yang tidak sekedar mengurangi sampah organik sehingga beban TPA berkurang tapi lebih dari itu ikut serta dalam merawat bumi. “Harapannya kegiatan yang dilakukan dapat menginspirasi masyarakat luas untuk berbuat serupa,” ungkap Istiaji.
Setelah dilakukan praktek pembuatan EE dilanjutkan tanya jawab dan duskusi dan diakhiri dengan pemberian 1 botol EE kepada peserta oleh EE Nusantara. Kegiatan berjalan dengan lancar dan ditutup pukul 11.00 wib (Sutarto Agus/KIM Seyegan)


