Sleman – Kundha Kabudayan (Dinas Kebudayaan) Kabupaten Sleman menggelar Workshop Penulisan Asal-Usul Nama Padukuhan Jilid 3. Kegiatan itu berlangsung di Ayem Ayem Coffee, Jugang, Tridadi, Sleman, pada Rabu (6/03/2024) dan diikuti oleh 30 penulis yang telah diseleksi dengan tahapan tertentu dan pengamatan khusus oleh pihak Dinas Kebudayaan dan tim ahli.
Kepala Bidang Sejarah dan Permuseuman Kundha Kabudayan Sleman, Anas Mubakir dalam laporannya menyampaikan bahwa maksud dan tujuan diadakan kegiatan tersebut adalah untuk menggali sejarah atau cerita lisan tentang asal usul penamaan padukuhan.
“Hasil penulisan akan dibukukan sebagai buku toponimi jilid 3, dimana sebelumnya telah diterbitkan toponimi jilid 1 pada tahun 2021 dan jilid 2 pada tahun 2023,” tuturnya.
“Penerbitan buku toponimi tersebut merupakan program unggulan Kundha Kabudayan Sleman yang biayanya menggunakan dana keistimewaan,” tambah Anas.
Workshop dibuka oleh Kepala Dinas Kundha Kabudayan Kabupaten Sleman, Edy Winarya. Dalam sambutannya Edy mengatakan bahwa Kabupaten Sleman memiliki 1212 padukuhan. Setiap padukuhan mempunyai sejarah atau latar belakang masing-masing yang bagus untuk didokumentasikan.
“Buku asal-usul nama padukuhan ini sangat menarik. Kedepan dapat untuk tinggalan generasi yang akan datang, dan bisa juga untuk referensi pembuatan naskah ketoprak, sinetron, film, dan sebagainya,” tuturnya.
Selanjutnya Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Ita Kurniawati menjelaskan mengenai petunjuk teknik dan petunjuk pelaksanaan penulisan. Semua penulis akan diberi surat tugas yang dimintakan tanda tangan lurah setempat sebagai izin akan memasuki padukuhan yang dimaksud.
Ia juga mengatakan bahwa penulis akan didampingi oleh 5 tim ahli yaitu Budi Sardjono, Sutopo Suglhartono, Toto Sugiarto, Wiwen Widyawati Rahayu, dan Suhindrriyo.
Pada kesempatan itu ada 3 narasumber yang dihadirkan yaitu Budi Sardjono penulis novel nasional, Sutopo Suglhartono dari Kadaulatan Rakyat, dan Toto Sugiharto, novelis dan ex wartawan Bernas.
Budi Sardjono menyampaikan materi tentang Cerita dibalik Nama. Dikatakan bahwa nama-nama padukuhan bisa berasal dari peristiwa-peristiwa masa lalu, nama-nama tokoh, pohon tertentu, dan sebagainya.
“Banyak nama padukuhan yang ada kaitannya dengan peristiwa perang Diponegoro, perang kemerdekaan, perang Trunojoyo, Sunan Kalijaga, kerajaan-kerajaan, dan sebagainya. Reporter harus bisa menemukan jejak atau bekas peninggalannya seperti bekas bangunan, makam, petilasan, dan cerita dari narasumber yang dipercaya,” paparnya.
Sementara Sutopo Sugihartono memberikan materi Teknik menulis toponimi berbasis sejarah dan budaya. Sedangkan Toto Sugiharto menyampaikan materi tentang Teknik mengejar narasumber. (Eny Ms/KIM Sembada Sleman )


