Rembug Stunting 2025: Menuju Sendangsari Zero Stunting

Minggir— Pemerintah Kalurahan Sendangsari menggelar Rembug Stunting 2025 sebagai langkah strategis menurunkan angka stunting di wilayahnya. Acara yang digelar di Aula Kalurahan Sendangsari, Kamis (19/6/2025), dihadiri Panewu Minggir, Lurah dan pamong kalurahan, serta perwakilan kader kesehatan dari seluruh padukuhan.

Lurah Sendangsari, Afan Nur Hisan, menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya forum ini sebagai upaya memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam menangani stunting. Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kalurahan Sendangsari telah mengalokasikan lebih dari 10 persen APBKal pada bidang kesehatan, termasuk untuk program percepatan penurunan stunting.

“Semoga dengan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan, Sendangsari dapat menjadi kalurahan zero stunting,” kata Afan.

Panewu Minggir, Dewanto Tri Nugroho, menyoroti tingginya angka stunting di wilayah Kapanewon Minggir, yang saat ini menempati peringkat pertama di Kabupaten Sleman. Ia menyebutkan bahwa stunting umumnya disebabkan oleh kurangnya asupan gizi seimbang, tidak diberikannya ASI eksklusif, hingga paparan asap rokok pada balita.

“Kita harus memberikan edukasi kepada masyarakat, terutama perokok, agar tidak merokok di dekat balita maupun ibu hamil,” ujarnya.

Narasumber dari Puskesmas Minggir, Frida Hartiningrum, mengungkapkan bahwa hingga Mei 2025, terdapat 12 balita stunting di Sendangsari. Angka tersebut menempatkan Sendangsari pada urutan keempat dari lima kalurahan di Kapanewon Minggir.

Frida menjelaskan, lima faktor utama penyebab stunting di Sendangsari meliputi paparan asap rokok, asupan gizi yang tidak adekuat, penyakit penyerta, tidak diberikannya ASI eksklusif, serta pola makan yang belum sesuai dengan Pedoman Makanan Bayi dan Anak (PMBA).

Dari kelima faktor tersebut, dua di antaranya — paparan asap rokok dan asupan gizi tidak adekuat — dinilai dapat diintervensi melalui program kalurahan. Dalam forum tersebut, para peserta mengusulkan solusi konkret, di antaranya dengan pembentukan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di lingkungan kantor kalurahan, pemasangan stiker peringatan bahaya merokok di rumah, edukasi kepada keluarga agar tidak merokok di dalam rumah, kelas memasak dan sosialisasi gizi seimbang bagi orang tua, pendampingan calon pengantin dan ibu hamil oleh kader dan Tim Pendamping Keluarga (TPK), dan emberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita dan balita stunting.

Rekomendasi dari forum ini direncanakan menjadi acuan program prioritas dalam APBKal tahun mendatang sebagai bagian dari gerakan menuju Sendangsari Zero Stunting. (Sardiyanto/KIM Sendangsari Minggir)

image_pdfimage_print
Bagikan: