BPBD Sleman Tekankan Kesiapsiagaan dan Validitas Data Relawan Bencana

Sleman – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman menekankan pentingnya kesiapsiagaan serta validitas data relawan dalam Rapat Koordinasi Relawan Donoharjo (Relado) yang digelar pada Sabtu (6/12/2025) di Aula Kalurahan Donoharjo.

Dalam kesempatan tersebut, perwakilan BPBD Sleman, Ismardiyanto, menyampaikan apresiasi terhadap para relawan yang selalu sigap dalam berbagai kondisi, sekaligus menegaskan pentingnya kewaspadaan menghadapi potensi bencana yang tidak dapat diprediksi.

Ismardiyanto menegaskan bahwa setiap relawan wajib menjaga kesiapan peralatan dan memastikan seluruh perlengkapan berfungsi optimal. Selain itu, ia meminta relawan mulai melakukan pemetaan wilayah masing-masing untuk mengidentifikasi potensi bahaya, melakukan kajian risiko, dan mencatat lokasi yang membutuhkan mitigasi.

“Setiap tindakan harus berkoordinasi dengan pihak kalurahan, TNI, Polri, serta lembaga terkait lainnya. Jangan berjalan sendiri,” tegasnya.

Ia juga menambahkan bahwa jika terjadi insiden, relawan dapat bersurat ke BPBD agar tim dapat dikirim untuk assessment dan penanganan.

Di sektor administrasi, BPBD Sleman menyoroti proses validasi Kartu Identitas Relawan (KIR) mengingat adanya perubahan anggota di sejumlah komunitas. Ismardiyanto menjelaskan bahwa satu nama hanya dapat terdaftar di satu komunitas untuk menghindari duplikasi data. Validitas ini penting karena berhubungan dengan pertanggungjawaban sosial, termasuk kepesertaan relawan dalam BPJS Ketenagakerjaan. Saat ini tercatat 2.481 relawan yang didaftarkan secara resmi, dengan pembayaran premi hampir Rp42 juta per bulan, demi memastikan relawan mendapatkan jaminan jika terjadi kecelakaan.

BPBD juga mendorong peningkatan kapasitas relawan agar tidak hanya mengandalkan semangat, tetapi memiliki kemampuan dasar penyelamatan. Pelatihan penanganan korban dan pengelolaan posko diberikan khusus kepada komunitas yang terdaftar resmi.

“Kami ingin memiliki relawan yang pintar, paham, dan cerdas. Jangan sampai relawan justru menjadi korban berikutnya,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa atribut baju oranye bukan sekadar identitas, melainkan simbol tanggung jawab besar di lapangan.

Sementara itu, Ketua Forum Komunikasi Relawan Sleman (FKRS), Yoga Nugroho Utomo, menyoroti dinamika relawan yang kerap bergabung namun tidak aktif atau berpindah komunitas. Menurutnya, hal ini bisa terjadi karena minimnya pemahaman pada tahap awal. “Berikan pemahaman yang luas sejak awal mengenai apa yang bisa dilakukan dalam penanganan bencana. Metode pelatihan pun harus disesuaikan agar tidak terlalu formal dan mampu melibatkan semua komponen,” jelasnya.

Yoga menegaskan bahwa Relado merupakan wadah kemanusiaan yang fokus pada kesiapsiagaan, mengingat dampak bencana tidak pernah dapat diukur secara pasti. Ia juga mendorong peran relawan muda khususnya dalam pengolahan informasi, mengingat sebagian komunitas masih lemah dalam aspek teknologi informasi.

Ismardiyanto berharap bahwa solidaritas dan kapasitas relawan terus meningkat sehingga kegiatan kemanusiaan yang dilakukan dapat memberi manfaat luas dan menjadi amal kebaikan bagi seluruh anggota. (Endarwati/KIM Donoharjo)

image_pdfimage_print
Bagikan: