Guru Adalah Pembangun Generasi, Bukan Penikmat

Sleman — Esensi profesi guru sebagai pembangun peradaban menjadi sorotan utama dalam kegiatan Halalbihalal Keluarga Besar Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (Himpaudi) Kapanewon Depok. Dalam pertemuan yang digelar di Teatrikal Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga pada Sabtu (11/4/2026) tersebut, para pendidik diajak untuk merefleksikan kembali niat dan keteguhan hati dalam membimbing anak usia dini.

Akademisi dari Institut Teknologi Nasional Yogyakarta (ITNY), Joko Prasojo, menegaskan bahwa pengabdian di lembaga PAUD bukanlah sekadar aktivitas rutin pendidikan. Menurutnya, peran guru PAUD memiliki nilai filosofis mendalam sebagai investasi kehidupan yang manfaatnya akan kembali kepada diri sendiri, keluarga, serta masa depan para anak didik.

“Jiwa guru adalah membangun, bukan menikmati. Apa yang dilakukan di lembaga PAUD merupakan nilai kehidupan yang bermanfaat, baik bagi diri sendiri maupun keluarga. Membangun fondasi karakter anak bangsa membutuhkan usaha yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar menikmati hasil, sehingga setiap pendidik dituntut memiliki keteguhan dan kesungguhan hati,” ujar Joko Prasojo di hadapan ratusan pendidik PAUD.

Lebih lanjut, Joko mengingatkan para pendidik agar tidak goyah dalam menjalankan peran strategis mereka, termasuk mengenai persoalan kesejahteraan. Ia menekankan pentingnya keikhlasan sebagai pilar utama profesi guru. Hal ini juga selaras dengan perjuangan organisasi Himpaudi yang terus berupaya mendorong kesetaraan bagi guru PAUD nonformal agar mendapatkan pengakuan yang lebih baik di mata hukum dan negara.

“Jangan pernah galau dengan rezeki, karena setiap ketentuan sudah diatur oleh Allah. Yang perlu kita jaga bersama adalah niat dan keikhlasan dalam menjalankan peran mulia ini. Kita semua jangan sampai lupa untuk terus menginvestasikan nilai-nilai kebaikan kepada anak-anak kita sebagai bekal kehidupan dunia dan akhirat kelak,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, Joko juga memperkenalkan konsep dua “sayap” utama bagi pendidik, yakni salat dan sabar. Ia menjelaskan bahwa sabar bukan berarti bersikap pasif, melainkan sebuah aksi aktif untuk terus berusaha dan berikhtiar sembari mengharap rida Tuhan dalam mendidik anak-anak yang memiliki karakteristik beragam.

Kegiatan halalbihalal ini menjadi ruang refleksi kolektif bagi para pendidik PAUD di wilayah Kapanewon Depok untuk mempererat solidaritas. Melalui penguatan mental dan spiritual ini, para guru diharapkan tetap optimis serta konsisten dalam mengawal fase emas pertumbuhan anak-anak sebagai calon pemimpin masa depan. Pendidikan anak usia dini kembali ditegaskan sebagai pilar mutlak bagi lahirnya generasi yang berkualitas dan berkarakter. (Athiful/KIM Depok)

image_pdfimage_print
Bagikan: