Bencana Di Sleman Sulit Dipetakan

Sleman – Kabupaten Sleman termasuk 136 kota di Indonesia yang memiliki indeks kebencanaan paling tinggi dengan skor 97.‬ Tercatat w‪ilayah Sleman, memiliki tujuh ancaman bencana, mulai dari erupsi Gunung Merapi, banjir hujan lahar, gempa bumi, tanah longsor, angin kencang (puting beliung), kekeringan dan kebakaran.‬

“Selain angin ribut atau puting beliung, petir, banjir dan tanah longsor perlu diwaspadai,” kata Drs Kunto Riyadi, Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Rabu (26/10).

Menurut Kunto, beberapa lokasi bencana memang sulit dipetakan akibat peningkatan pembangunan akhir-akhir ini. Begitu juga jenis bencana masih sulit diprediksi.‬

‪“Angin kencang dan sambaran petir itu susah dipetakan. Untuk itu, masyarakat lebih baik mengantisipasi ancaman bencana sedini mungkin. Lakukan hal-hal sederhana saja, misalnya memangkas pohon yang rindang, membersihkan selokan, dan sebagainya,” kata Kunto.‬

BPBD Sleman juga telah melakukan sejumlah langkah untuk antisipasi bencana.‬ Untuk memantau aliran sungai terutama yang berhulu di Gunung Merapi, misalnya, saat ini terpasang 9 Early Warning System (EWS).‬

‪EWS tersebut terpasang 3 titik di Sungai Boyong, satu di Sungai Opak dan 5 di Gendol. Tahun 2016 ini, BPBD Sleman menambah pemasangan 3 EWS di hilir Kali Trasi yang merupakan intake Kali Boyong, hulu Kali Kuning di Desa Hargobonangun Kecamatan Pakem dan Kali Krasak di Desa Tunggularum Kecamatan Turi Sleman.‬

Dikatakan Kunto, meski bencana di Sleman sulit dipetakan namun sebagian wilayah potensi bencana sudah dipetakan. Adapun yang belum dapat dipetakan adalah gangguan petir dan angin ribut akibat konsentrasi awan cumulonimbus.‬

‪Berbeda dengan ancaman bencana lainnya, BPBD Sleman telah melakukan pemetaan potensi bencana tanah longsor. “Kesemuanya berada di wilayah Prambanan,” tutur Kunto.

Dijelaskan, keretakan gerakan tanah yang tinggi berada di seluruh desa di Prambanan. Meliputi, Dusun Dawung dan Cepit Desa Bokoharjo, Dusun Jali, Jontro, Kalinongko Kidul, Kalinongko Lor, Gayam, Lemahabang dan Dusun Nawung (Gayamharjo). Selain itu, Dusun Sembir (Madurejo), Dusun Dawangsari, Gunungsari, Nglengkong, Kikis, Gedang, Mlakan dan Dusun Gunung Cilik (Sambirejo).‬

‪Adapun di Desa Sumberejo, potensi longsor terjadi di Dusun Umbulsari A, Umbulsari B, Sengir, Dayakan dan Gamparan. Untuk Desa Wukirharjo, dusunnya meliputi Klumprit I dan II, Candisari, Losari I dan II, serta Watukangsi.‬

‪“Kami terus berupaya melakukan mitigasi bencana dengan melakukan gladi lapang untuk meminimalisir jumlah korban dan memastikan warga memahami apa yang perlu dilakukan ketika bencana datang,” kata Kunto.

image_pdfimage_print
Bagikan: