Sleman – Sebagai sebuah lembaga layanan publik yang dibentuk dan dikelola dari, oleh dan untuk masyarakat, Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Kerto Mandiri, Kecamatan Turi membentuk Koperasi Simpan Pinjam (KSP) bernama KSP Kerto Mandiri Sejahtera. Pendirian koperasi ini diresmikan oleh Kepala Dinas Kominfo Sleman drg. Intriyati Yudatiningsih di Kembangarum, Donokerto, Turi, Selasa (31/1).
KIM Kerto Mandiri sejauh ini berjalan dengan baik. Pertemuan rutin mereka selenggarakan pada tanggal 20 setiap bulannya. Pada suatu kesempatan mereka juga pernah sampai ke Malaysia atas ajakan Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk saling bertukar informasi mengenai kegiatan KIM disana.
Sebagai sebuah kelompok informasi, KIM Kerto Mandiri juga membina kelompok-kelompok usaha masyarakat sekitar. Rata-rata usaha kecil masyarakat di kecamatan Turi adalah budidaya buah salak dan makanan olahan berbasis salak. Selain itu ada beberapa yang beternak kambing Ettawa.
Sebagai sebuah koperasi baru, KSP Kerto Mandiri telah berbadan hukum dengan nomor 001621/BH/M.UMKM2/VII/2016. Tujuan didirikannya KSP ini supaya bisa membantu Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang notabene bermodal kecil.
Anggota KSP Kerto Mandiri saat ini 35 orang, dan sudah ada 11 orang ingin bergabung. Sementara modal awalnya sebesar Rp. 55.662.700 yang berasal dari iuran anggota dan bantuan-bantuan yang diterima.
“Kami selalu berupaya memperbaiki diri dalam berbagi informasi dan juga ingin mensejahterakan anggota,” ungkap Bakir, Ketua KIM Kerto Mandiri mengenai alasan mendirikan KSP ini.
Sementara itu pada kesempatan yang sama Kepala Dinas Kominfo Sleman drg. Intriyati Yudatiningsih KIM mengajak anak-anak muda untuk ikut bergabung dengan KIM.
“Selain mendirikan badan usaha, KIM seharusnya bisa mempromosikan usaha-usaha yang dikelola. Kami menghimbau anak-anak muda bergabung dengan KIM, karena generasi muda bisa ikut mempromosikan produk KIM dengan memanfaatkan teknologi saat ini. ” terang drg. Intriyati.
Anak – anak muda diharapkan mampu menjadi regenerasi bagi bapak-bapak yang sudah tua dan produk lokal kita bisa bersaing di era globalisasi ini. Kualitas dan rasa produk makan olahan salak di Turi rasanya tak kalah dengan produk luar negeri, tambah drg. Intriyati.


