Dimas Zacky dan Diajeng Keisha Terpilih Menjadi Dimas Diajeng Sleman 2025

Grand Final Pemilihan Dimas Diajeng Sleman Tahun 2025 telah dilaksanakan pada Jumat (9/5) malam, bertempat di Gedung Pertunjukan Universitas Negeri Yogyakarta. Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, beserta jajaran turut hadir pada acara tersebut. Setelah melalui tahap penjurian, Muhammad Zacky Kusnail (Dimas Zacky) dari Universitas Negeri Yogyakarta, dan Keisha Farella Mirakel (Diajeng Keisha) dari Universitas Gajah…

Selengkapnya

Slawatan Jowo Mlangi sebagai Titik Temu antara Tradisi dan Masa Depan

Sleman – Mlangi adalah desa yang telah lama dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan Islam dan budaya Jawa di Yogyakarta. Di tengah kepungan perkembangan kota, Mlangi tetap menyimpan denyut tradisi. Di sinilah pesantren-pesantren berdiri, tak hanya sebagai tempat mengaji kitab kuning, tetapi juga sebagai benteng pelestarian budaya lokal, termasuk tradisi slawatan. Di sela waktu antara…

Selengkapnya

Kompetisi Pegon; Menulis Masa Depan dengan Aksara Leluhur

Sleman – Di tengah derasnya arus globalisasi dan dominasi huruf latin dalam dunia pendidikan, aksara pegon perlahan mulai kehilangan tempat di hati generasi muda. Aksara yang dulunya hidup subur di lingkungan pesantren dan literasi Islam Jawa itu kini hanya dikenal oleh segelintir orang. Karenanya, menghadirkan kompetisi menulis naskah dan kaligrafi menggunakan aksara pegon bagi pelajar…

Selengkapnya

Seni Kubro sebagai Dakwah Kultural Menjaga Spirit Islam Lewat Tarian

Sleman – Festival Mlangi telah menjadi ruang penting bagi kelompok seni lokal untuk menunjukkan eksistensinya. Diselenggarakan rutin setiap tahun di kawasan religius yang terkenal dengan tradisi pesantrennya, festival ini menjadi pertemuan antara budaya, agama, dan kreativitas warga. Di sinilah Kubro Sekar Arum Nogotirto mendapatkan panggung yang sepadan. Di tengah arus modernisasi, mereka bersikukuh menjaga warisan…

Selengkapnya

Membaca Warisan, Menulis Peradaban Lewat Kajian dan Kursus Menulis Aksara Pegon

Sleman – Di masa lampau, aksara pegon menjadi media utama para ulama menyampaikan ilmu, menulis tafsir, dan mengekspresikan kebudayaan Islam yang membumi. Aksara Pegon digunakan untuk menulis bahasa Jawa dengan huruf Arab di sejumlah pesantren seperti Krapyak, Termas, hingga Mlangi sendiri. Pegon bukan sekadar sistem tulisan, melainkan bagian dari identitas dan laku intelektual santri. Pentingnya…

Selengkapnya
image_pdfimage_print