Sleman – Penyakit demam berdarah (DB) masih menjadi ancaman serius bagi warga Kabupaten Sleman. Sejak Januari hingga pertengahan Maret 2016 ini tercatat sudah empat orang meninggal akibat penyakit tersebut.
Pasien DB yang meninggal ini berasal dari tiga kecamatan. Dua orang merupakan warga Kecamatan Kalasan, sedangkan lainnya masing-masing berasal dari Kecamatan Mlati dan Kecamatan Seyegan. Adapun total jumlah penderita sampai saat ini mencapai 249 pasien. Meski demikian, kasus DB di Kabupaten Sleman ini belum masuk kategori kejadian luar biasa (KLB).
“Pada periode yang sama tahun lalu, temuan penyakit DB sebanyak 205 kasus. Jumlahnya tidak mencapai dua kali lipat sehingga belum dikategorikan KLB,” kata Kabid Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman, Novita Krisnaeni, Senin (28/3).
Selama ini lanjutnya, dari 17 kecamatan di Kabupaten Sleman hanya dua wilayah yang belum ditemukan penderita DB yakni Kecamatan Turi dan Pakem. Kasus paling banyak dilaporkan di Kecamatan Depok yakni 36 penderita, disusul Kalasan sebanyak 33 pasien.
Selain itu, beberapa kecamatan juga menjadi daerah endemis DB seperti Kecamatan Mlati, Godean, Gamping, Sleman, Berbah, dan Ngaglik.
Novita menerangkan, daerah endemis biasanya merupakan kawasan lingkungan yang padat penduduk, dan banyak terdapat genangan pada saluran air.
Karena itu, masyarakat diimbau rutin membersihkan bak air maupun wadah penampungan lainnya yang berpotensi menjadi tempat perkembangan nyamuk aedes aegypti.
“Tampungan dispenser juga perlu diperhatikan. Sisa air yang ada di tampungan bisa jadi tempat bertelur nyamuk jika tidak rutin dibersihkan,” kata Novita.
Sementara Kepala Dinkes Sleman, dr Mafilindati Nuraini MKes menambahkan metode pemberantasan sarang nyamuk 3M lebih efektif dibanding pengasapan. Sebab, fogging hanya membunuh nyamuk dewasa sedangkan jentik tetap tumbuh. Bahkan pengasapan bisa membuat nyamuk kebal terhadap pestisida.
Dijelaskan, tahap perkembangan telur menjadi nyamuk vektor demam berdarah hanya membutuhkan waktu 5-7 hari. Sekali berkembang biak, aedes aegypti bisa menghasilkan 100-300 telur.
“Warga sebaiknya rutin membersihkan kamar mandi setidaknya dua kali dalam seminggu dengan cara menyikat. Kebersihan lingkungan rumah juga harus dijaga dari genangan air termasuk tumpukan barang bekas maupun sampah,” tandasnya.


