Caturtunggal — Upaya melestarikan budaya lokal terus digelorakan di Kalurahan Caturtunggal. Dalam rangka memperingati Hari Kartini tahun 2025, Tim Penggerak PKK Kalurahan Caturtunggal menggelar Lomba Mewiru Kain Gaya Jogja di Pendopo Puspadenta pada Sabtu (26/4/2025). Kegiatan ini diikuti oleh 19 peserta yang merupakan perwakilan dari seluruh padukuhan di Caturtunggal.
Lomba mewiru, yaitu teknik melipat kain tradisional dalam berpakaian adat, menjadi sarana untuk mengenalkan dan melestarikan salah satu kekayaan budaya Jawa di tengah masyarakat modern. Melalui kegiatan ini, budaya berpakaian tradisional diharapkan tetap hidup dan dikenal luas, terutama di kalangan generasi muda.
Acara dibuka dengan doa bersama, diikuti dengan menyanyikan Mars PKK, Mars Caturtunggal, dan lagu Hari Kartini. Penjabat Lurah Caturtunggal, Feri Ferdian secara resmi membuka kegiatan dan menekankan pentingnya menjaga tradisi serta meneladani semangat emansipasi yang diwariskan R.A. Kartini.
Ketua TP PKK Kalurahan Caturtunggal, Siti Juwariyah, dalam sambutannya menyampaikan apresiasinya atas antusiasme peserta. Ia mengajak seluruh perempuan untuk terus berdaya sambil menjaga identitas budaya.
“Saya bangga melihat semangat para peserta hari ini. Semoga ajang ini menjadi pemacu semangat untuk terus menjaga warisan budaya sekaligus mempererat tali persaudaraan di Kalurahan Caturtunggal,” ungkapnya.
Suasana semakin semarak dengan penampilan Tari Sintren, Tari Nusantara oleh anggota TP PKK, serta Tari Tangkasing Ajurit yang dibawakan oleh Nanda Fulfuan Diwangkara Simbarinten.
Dalam perlombaan yang dinilai oleh Faizal Noor Singgih, S.TP., Dra. Jumariah, M.Pd., dan Sri Rahayu, terpilih enam peserta terbaik. Juara pertama diraih oleh Padukuhan Papringan, diikuti oleh Padukuhan Gowok di posisi kedua dan Padukuhan Karangmalang di posisi ketiga. Sementara itu, penghargaan Juara Harapan diberikan kepada perwakilan Padukuhan Blimbingsari, Ambarukmo, dan Mrican.
Penyerahan piala dilakukan langsung oleh PJ Lurah, Kamituwo, Ketua TP PKK, dan Ketua Panitia, sementara kenang-kenangan kepada dewan juri diserahkan oleh Warsiatun.
Acara ditutup dengan doa bersama, menandai berakhirnya kegiatan penuh makna ini. Lomba Mewiru Kain Gaya Jogja bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan juga wujud nyata pelestarian budaya serta penguatan nilai perjuangan Kartini di tengah masyarakat Caturtunggal. (Oktaviana/KIM Depok)


