Sleman – Siang panas di bawah sengatan matahari akan nikmat ditemani segarnya es serut milik Mbah Warno (60 th). Ditemui saat menjajakan dagangannya di halaman SD Negeri Berbah, Kamis (13/11/2025).
Dengan mengendarai sepeda jengki warna biru yang cat sudah tidak mengkilap lagi, Mbah Warno menapaki hari mengayuh kehidupan dengan berjualan es serut. Ia berjualan dari sekolah ke sekolah berpindah menyesuaikan dengan jam istirahat atau jam pulang.
Selain jualan di sekolah Mbah Warno juga berjualan ditempat yang ada keramaian, misal saat senam masal, Jathilan dan tontonan yang lain.
Alat utama membuat es serut adalah serutan atau pasah. Alat pasah tersebut mirip dengan pasah manual yang dipergunakan tukang kayu untuk menghaluskan permukaan kayu.
“Bentuknya hampir sama cuma lebih lebar dan mata pisau lebih tipis. Bahannya dari bekas gergaji selendang yang tipis,” jelas Mbah Warno.
Dengan mata bilah serut yang tipis bisa menghasilkan serutan es yang lebih lembut.
“Kalo menggunakan pasah tukang kayu hasil serutan es kasar. Anak kurang suka,” sambungnya.
Mbah Warno mengatakan bahwa pembeli es serut kebanyakan merupakan adalah anak-anak.
“Dalam melayani pembeli anak-anak harus ramah dan fleksibel. Harga kadang kadang tidak bisa dipatok. Biasanya menjual es serut 5000 untuk cup besar ukuran 12 dan harga 3000 untuk cup yang kecil,” ujarnya.
Namun dirinya tetap melayani andai ada anak yang membeli dengan uang dua ribuan bahkan seribuan pun dia layani. Meski dengan porsi yang disesuaikan.
“Kasihan anak-anak bila tidak dilayani. Cuma es ini,” Kata Mbah Warno sembari melayani pelanggan.
Dengan membawa persediaan es batu yang dia bikin sendiri. Sirup pemanis juga dibuat sendiri setiap hari meraih rezeki lewat dinginnya es dan manisnya sirup warna. Tantangan berjualan es adalah rasa malas dan hujan.
“Memasuki musim penghujan seperti ini merupakan tantangan tersendiri. Namun ya mesti dijalani. Untuk menyambung kehidupan dan menjalani takdir-Nya,” ungkap Mbah Warno. (Kusnadi KIM Berbah)


