Angkat Lakon Wahyu Cakraningrat, Merti Dusun Kalongan Sleman Tekankan Pesan Kepemimpinan Ideal

Sleman — Padukuhan Kalongan, Kalurahan Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, kembali menghidupkan tradisi luhur melalui gelaran Merti Dusun yang meriah. Puncak acara syukur warga ini ditandai dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk yang berlangsung di area parkir D’Salvatore Hotel pada Sabtu (14/2/2026). Menghadirkan dalang Raka Wersniwara Purnomo Aji yang berkolaborasi dengan sinden ternama Elisha Orcarus Alloso, pertunjukan ini berhasil menyedot perhatian ratusan warga yang rindu akan tontonan sekaligus tuntunan budaya Jawa.

Lakon yang diangkat dalam kesempatan ini adalah “Wahyu Cakraningrat”, sebuah kisah klasik yang sarat akan makna filosofis mengenai pencarian jati diri dan kelayakan seorang pemimpin. Pemilihan lakon ini bukan tanpa alasan, melainkan sebagai upaya refleksi kolektif bagi masyarakat dalam memahami esensi kepemimpinan di tengah dinamika pembangunan zaman sekarang. Tradisi tahunan ini pun menjadi bukti nyata bahwa kearifan lokal tetap memiliki ruang di tengah masyarakat urban Kapanewon Depok.

Penjabat Lurah Maguwoharjo, Isti Fajaroh, mengungkapkan rasa bangganya terhadap konsistensi warga Kalongan dalam melestarikan seni tradisional. Ia menegaskan bahwa wayang kulit harus dipandang lebih dari sekadar hiburan rakyat, melainkan sebagai instrumen edukasi karakter yang sangat efektif. Nilai-nilai yang terkandung dalam Wahyu Cakraningrat dianggap sangat relevan dengan visi pembangunan kelurahan yang mengedepankan integritas dan keberpihakan pada kepentingan publik.

“Wayang bukan hanya seni, tapi juga pelajaran hidup bagi kita semua. Wahyu Cakraningrat adalah simbol tekad kuat dalam membangun peradaban yang bermartabat, bukan sekadar urusan pembangunan infrastruktur fisik semata. Melalui lakon ini, kita diingatkan bahwa pemimpin yang ideal adalah mereka yang mampu menyelaraskan pikiran, perkataan, dan perbuatan demi kebaikan orang banyak,” ujar Isti Fajaroh di sela-sela acara.

Lebih lanjut, Isti menjelaskan bahwa dalam lakon tersebut digambarkan bahwa kepemimpinan sejati tidak bisa didapatkan dengan paksaan atau sekadar kekuatan materi. Kepemimpinan merupakan amanah spiritual yang hanya akan hinggap kepada sosok yang memiliki hati bersih, adil, serta mampu memberikan perlindungan bagi rakyatnya. Pesan ini diharapkan dapat terinternalisasi dalam diri masyarakat agar tumbuh menjadi warga yang memiliki standar moral yang tinggi dalam kehidupan bersosial.

“Lakon ini memberi pengajaran mendalam bahwa kepemimpinan tidak diwariskan atau diukur dari kekuatan fisik semata, melainkan sebuah anugerah Tuhan bagi mereka yang terpilih. Hanya sosok yang memiliki sifat welas asih, adil, dan benar-benar mampu melindungi rakyatlah yang layak menerima wahyu kepemimpinan tersebut. Nilai inilah yang harus terus kita pupuk di tengah masyarakat agar Maguwoharjo tetap rukun dan harmonis,” tegasnya kembali.

Selain fungsi edukasi dan pelestarian seni, Merti Dusun Kalongan ini juga menjadi momentum penguat kohesi sosial. Partisipasi aktif warga dalam penyelenggaraan acara menunjukkan bahwa gotong royong tetap menjadi pengikat utama komunitas di tengah pesatnya perkembangan wilayah Depok. Pemerintah Kalurahan Maguwoharjo berkomitmen untuk terus mendukung kegiatan berbasis kearifan lokal seperti ini sebagai fondasi pembangunan karakter masyarakat yang religius dan berbudaya di masa depan. (Athiful/KIM Depok)

image_pdfimage_print
Bagikan: