Delapan Pintu Rezeki dalam Al-Qur’an sebagai Pondasi Ketahanan Keluarga

Sleman – Suasana kajian rutin Masjid YTCS Yayasan Tarmoedji Tjondro Soedarmo Kamis malam (27/11/2025) tampak khidmat. Para jamaah dari berbagai kalangan dari wilayah Turi datang memenuhi masjid untuk mengikuti kajian bertema “8 Pintu Rezeki dalam Al-Qur’an”. Materi tersebut disampaikan oleh Ustaz Talqis Nurdianto, Alumni Universitas Al-Azhar Mesir, UGM dan USIM Malaysia yang merupakan Direktorat AIK UMY, Dosen Pendidikan Bahasa Arab UMY.

Menurut Takmir masjid ini Ir. Agus Nugroho Setiawan, YTCS adalah sebuah masjid terlatak di Jl. Turi, Wetan Kali, Donokerto, Turi Sleman dan kajian ini digelar sebagai upaya penguatan spiritual dan ketahanan keluarga melalui pemahaman yang benar tentang konsep rezeki dalam perspektif Islam.

Ustaz Talqis menegaskan bahwa rezeki tidak semata-mata soal materi, tetapi mencakup juga nikmat non-materi yang Allah berikan kepada setiap hamba.

“Rezeki adalah segala sesuatu yang diberikan Allah untuk memelihara kehidupan, baik berupa materi seperti makanan dan harta, maupun non-materi seperti kesehatan, ilmu, keimanan, dan kebahagiaan,” ujarnya.

Menurutnya, salah satu kesalahan yang sering terjadi di tengah masyarakat adalah mengidentikkan rezeki hanya dengan uang. Padahal, dalam Al-Qur’an ditegaskan bahwa dijamin rezeki setiap makhluk yang bergerak di atas bumi oleh Allah (QS. Hūd ayat 6).

Pernyataan tersebut kembali menegaskan keyakinan bahwa tidak ada satu pun makhluk yang dilupakan Allah dalam pemberian rezeki.

“Karena itu, kekhawatiran berlebihan tentang rezeki sebenarnya adalah bentuk kelalaian dalam memahami janji Allah,” tegas Ustaz Talqis.

Ia juga memaparkan bahwa pintu pertama rezeki adalah usaha. Manusia wajib bekerja dan berikhtiar, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, “Dan manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya (QS. An-Najm ayat 39)”.

Ia menambahkan sebuah hadis yang juga menjelaskan bahwa sebaik-baik makanan yang dimakan seseorang adalah hasil dari usahanya sendiri (HR. an-Nasā’ī dan Ibn Ḥibbān).

Pintu rezeki berikutnya datang dari sikap bersyukur. Ustaz Talqis mengutip firman Allah yang berbunyi “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu (QS. Ibrāhīm ayat 7)”.

Ia menjelaskan bahwa syukur tidak hanya diucapkan dengan lisan, tetapi dibuktikan dengan ketaatan dan penggunaan nikmat sesuai yang diridai Allah. Selain itu, ketakwaan juga menjadi pintu besar dalam datangnya rezeki.

Ayat yang berbunyi “Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan menganugerahkan rezeki dari arah yang tidak diduga-duga (QS. Aṭ-Ṭalāq ayat 2–3)” ini menunjukkan bahwa rezeki dapat diperoleh bahkan dari sumber yang sama sekali tidak disangka. 

Peserta kajian pun tampak antusias ketika Ustaz Talqis menjelaskan pintu rezeki berikutnya yaitu istighfar. Ia menyampaikan ayat Nabi Nuh yang menjelaskan bahwa memohon ampun kepada Allah bukan hanya menghapus dosa, tetapi juga membuka pintu kemakmuran Allah akan menurunkan hujan, memperbanyak harta dan anak-anak, serta menyediakan kebun-kebun dan sungai-sungai (QS. Nūḥ ayat 10–12).

Rezeki yang datang melalui pernikahan juga menjadi sorotan penting. Ustaz Talqis mengingatkan para remaja dan keluarga bahwa Allah berfirman “Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya (QS. An-Nūr ayat 32)”.

“Menikah bukanlah penyebab kemiskinan, justru jalan menuju luasnya rezeki dan ketenteraman,” tegasnya.

“Sedangkan kehadiran anak juga menjadi pintu rezeki, bukan beban. Allah sendiri menegaskan ’Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu,” ujar Ustaz Talqis. (Arief Hartanto KIM Kertomandiri Turi)

image_pdfimage_print
Bagikan: