Sleman — Buku “Sele’sa, Di Balik Sekat-Sekat Perjalanan” karya Rifqy Faiza Rahman menawarkan lebih dari sekadar catatan lintas wilayah. Dalam bedah buku yang digelar di Pendopo Puspadenta, Kalurahan Caturtunggal, Kapanewon Depok, Sleman, Senin (30/6/2025), penulis menyampaikan bahwa setiap kisah dalam buku ini merupakan bentuk refleksi dan dedikasi bagi mereka yang pernah merasa asing di tengah keramaian dunia.
“Saya menulis untuk semua orang yang pernah merasa perlu menjauh sejenak, bukan karena benci, tetapi karena ingin pulang dengan utuh,” ujar Rifqy.
Buku Sele’sa memuat dua belas esai perjalanan, yang tidak hanya menjelajahi sisi geografis, tetapi juga menggali pengalaman emosional dan eksistensial. Di antaranya adalah kisah “Cerita dari Lasiana” yang mengangkat solidaritas masyarakat pesisir Timor dalam memperingati Hari Kemerdekaan.
Rifqy juga menyoroti semangat warga di daerah perbatasan seperti Malang–Lumajang dan Ruteng–Maumere, yang tetap menggali potensi wisata meski dengan keterbatasan infrastruktur.
“Saya belajar bahwa semangat tak selalu lahir dari kenyamanan. Kadang, justru dari keterbatasan,” katanya.
Salah satu bagian yang mencolok terdapat pada bab Rantau (2), di mana ia bersama seorang kawan menghadapi perjalanan berat yang mengungkap dinamika ego, penerimaan, dan keterbatasan. Rifqy menegaskan bahwa inti dari sebuah perjalanan bukan terletak pada jaraknya, melainkan pada kejujuran dalam mengenali diri sendiri.
“Perjalanan paling jauh bukanlah yang melintasi pulau, tetapi yang membawa kita mengenal diri sendiri lebih dalam,” tandasnya.
Dengan gaya narasi reflektif dan humanis, Sele’sa menjadi bagian dari khasanah sastra perjalanan Indonesia yang menawarkan peta jiwa, bukan sekadar peta wilayah. Di tengah dunia yang serba cepat, buku ini mengajak pembaca untuk sejenak menepi, merenung, dan menyusun ulang makna tujuan hidup. (Athiful/KIM Depok)


