Sleman – Tim penilai SUMUNAR Award 2025 melakukan validasi lapangan terhadap inovasi pengelolaan sampah yang dikembangkan warga Bukit Songo Papat, Kaliurang Barat, Kalurahan Hargobinangun, Pakem, pada Kamis (27/11/2025). Ajang ini merupakan penghargaan lomba inovasi pemberdayaan masyarakat tingkat DIY. Di mana, Kalurahan Hargobinangun masuk tiga besar terbaik dalam penilaian secara virtual melalui video yang dikirim.
Validasi tersebut bertujuan untuk melihat secara langsung kegiatan inovasi di Hargobinangun. Kegiatan itu berlangsung sejak pagi dengan meninjau proses pengelolaan sampah dari pengumpulan, pemilahan, hingga pengolahan sampah menjadi produk bernilai guna seperti kompos, dan kerajinan.
Inovasi ini digagas kelompok warga yang diinisiasi oleh pengurus LPMK, baik yang ada di kalurahan maupun di unit. Tujuannya adalah untuk mengubah tempat pembuangan sampah menjadi tempat destinasi wisata.
Di samping itu, menjadikan pengelolaan sampah sebagai unit usaha yang bukan saja memberdayakan masyarakat setempat sebagai pekerja. Tetapi juga sebagai pemasukan pendapatan dengan menjual jasa pengepul sampah. Pendeknya kegiatan “olah uwuh” ini menjadi sarana meningkatkan ekonomi masyarakat.
Lurah Hargobinangun, Amin Sarjito dalam sambutannya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas kerja kolektif warga yang dimotori oleh pengurus LPMK yang mampu mengubah persoalan sampah menjadi peluang.
“Warga kami membuktikan bahwa inovasi tidak harus berangkat dari hal besar. Sampah yang selama ini menjadi masalah justru bisa menjadi sumber manfaat. Kami berharap validasi ini dapat memberi semangat baru bagi masyarakat untuk terus berinovasi,” ujarnya.
Ketua Pirukunan Tuwanggana DIY, KPH Notonegoro, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, menekankan pentingnya kolaborasi lokal dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.
“Inovasi di Bukit Songo Papat menunjukkan kesadaran kolektif masyarakat untuk merawat bumi. Gerakan seperti inilah yang ingin kami dukung melalui SUMUNAR Award. Semoga menjadi contoh bagi wilayah lain,” kata Gusti Noto.
Gusti Noto juga memberikan apresiasi kepada Pinituwo Tuwanggana yang ada di Kalurahan dan unit Padukuhan yang bisa menunjukkan “kemanfaatannya” sehingga bisa melahirkan inovasi pemberdayaan masyarakat berupa olah uwuh.
“Ke depannya, Tuwanggana ini diharapkan untuk menjadi perantara antara generasi muda dan generasi tua dalam mewarnai pembangunan diwilayahnya sehingga keberlanjutannya program dapat terjadi,” pesan Gusti Noto diakhir sambutannya.
Kegiatan dilanjutkan dengan presentasi atau paparan inovasi “olah uwuh” yang disampaikan oleh perwakilan unit Tuwanggana Padukuhan Kaliurang Barat, Guntur, Pinituwo. Dengan rinci, Guntur menjelaskan tentang sejarah dari Bukit Songo Papat yang disulap dari TPS menjadi destinasi wisata.
Setelah presentasi dilanjutkan dengan kunjungan lapangan tim juri yang didampingi juga oleh Kabid Pemberdayaan Masyarakat Dinas PMK Kabupaten Sleman, Panewu Pakem, Kapolsek, Danramil Pakem, Lurah dan pamong Kalurahan Hargobinangun.
Proses validasi berjalan lancar dan diwarnai dengan tanya jawab tim juri dengan pengurus RPS (Rumah Pengolahan Sampah) terkait tantangan pengelolaan sampah, rencana pengembangan produk, serta peluang kemitraan. Tim penilai menyampaikan bahwa hasil validasi akan dibawa ke tahap seleksi akhir sebelum diumumkan penerima SUMUNAR Award 2025.
Kegiatan validasi lapangan ditutup dengan pesan dan kesan Tim Juri SUMUNAR Award yang diwakili oleh Siswantoyo, yang menyampaikan apresiasinya dengan kegiatan olah uwuh yang baru berjalan tiga bulan tetapi sudah menghasilkan pendapatan yang menjanjikan.
“Tuwanggana tidak saja mampu sebagai inisiator, tetapi juga berani mengambil langkah sebagai eksekutor. Dan dari RKTL yang disampaikan menunjukkan Tuwanggana yang mau berbenah untuk mengantisipasi tantangan kedepan,” ujarnya.
Siswantoyo pun mengingatkan untuk keber;anjutan program tersebut, mengingat sampah ke depannya masih menjadi masalah dan menjadi prioritas dalam penyelesaiannya. (Sutarto Agus/KIM Seyegan).


