Sleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman memiliki kepedulian terhadap regenerasi cinta budaya, dan terus memupuk kaum muda untuk mencintai dan melestarikan berbagai budaya yang tumbuh di daerah ini.
“Salah satu bentuk kepedulian tersebut melalui kegiatan rutin pergelaran `macapatan`,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM, Jumat (6/2).
Dikatakan Ayu, pergelaran “macapatan” yang merupakan program rutin Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dimaksudkan sebagai salah satu upaya melestarikan budaya Jawa, dengan memberikan ruang kepada komunitas macapat untuk melakukan kegiatannya.
“Materi macapatan yang syarat dengan nilai-nilai luhur dan pesan-pesan budaya sangat strategis sebagai sarana pembentukan dan penguatan karakter serta jati diri insan Jogja yang istimewa,” kata Ayu.
Peserta pergelaran macapatan kali ini tergabung dalam komunitas “Sekar Manunggal Sleman Sembada” pimpinan Panggih Hadi Murwanto, yang diikuti 150 orang dari 17 kecamatan se Kabupaten Sleman. Sedangkan rombongan “pengrawit” (penabuh gamelan) yang mengiringi pergelaran macapatan tersebut adalah kelompok “Ngesti Budaya Laras” pimpinan Pairin Wakiyono asal Sumbersari, Kecamatan Moyudan.
Hal yang menarik dalam kesempatan tersebut adalah hadirnya para siswa SD kelas III dan IV SD Negeri Tamanan, Desa Tamanmartani, Kecamatan Kalasan, yang dengan lancar membawakan sekar mijil, sekar gambuh, dan sekar donga. Ayu mengatakan generasi penerus cinta budaya ini dibimbing Tri Joko Saptono, dan Sumarsih.
Sementara Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI mengatakan pergelaran macapatan sebagai salah satu program kegiatan yang dilaksanakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman ini, memiliki nilai yang strategis dalam upaya melestarikan budaya Jawa yang adiluhung.
“Selain itu, kegiatan tersebut dapat secara riil mendukung konsep kecamatan sebagai pusat pelestarian dan pengembangan kebudayaan, serta konsep keistimewaan DIY,” katanya.
Ia mengatakan dalam upaya melestarikan budaya lokal tersebut perlu diperhatikan mengenai regenerasi cinta budaya.
“Kami memberikan apresiasi yang tinggi terhadap masyarakat, dan sekolah-sekolah yang sudah memberikan pendidikan muatan lokal kepada anak didiknya,” katanya.


