Sleman – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Sleman pada bulan puasa Ramadan ini selain terus melakukan operasi minuman keras (miras) juga mulai menggalakkan operasi anak jalanan (anjal) serta pengemis, gelandangan, dan orang tak dikenal (PGOT).
Hal ini dilakukan kareba pada bulan puasa keberadaan anjal dan PGOT cederung mengalami peningkatan. Demikian disampaikan Kepala Satpol PP Sleman, Drs Joko Supriyanto di Sleman, Senin (22/6). Menurut Joko mengatakan penertiban anjal dan PGOT ini telah menjadi agenda rutin selain operasi miras. Apalagi kebanyakan anjal dan PGOT memanfaatkan bulan Ramadan untuk meminta sedekah kepada masyarakat.
“Momen puasa sering dimanfaatkan untuk meminta sedekah, apalagi banyak masyarakat khususnya umat muslim yang berlomba-lomba untuk bersedekah di bulan Ramadan,” kata Joko.
Dijelaskan Joko, untuk penanganan anjal dan PGOT, pihaknya bekerja sama dengan Dinas Tenaga kerja dan Sosial (Disnkersos) Kabupaten Sleman. Hal ini lantaran usai ditertibkan, anjal dan PGOT yang terjaring akan dibawa ke panti sosial milik Dinas Sosial DIY.
“Setelah kami jaring, maka wewenang untuk pembinaan berada dibawah Dinsos DIY dan dipantau oleh Disnakersos Sleman,” tutur Joko.
Joko menyebutkan di luar Ramadan, Satpol PP merazia hingga puluhan anjal dan PGOT dalam sekali operasi. Terakhir pada bulan Mei, Satpol PP Sleman berhasil menjaring 28 orang anjal dan PGOT. Diakui Joko dari temuan tersebut dan kondisi lingkungan, diperkirakan ada peningkatan anjal dan PGOT.
“Meski demikian, biasanya mereka datang dari luar DIY, ada yang berasal dari Purworejo hingga daerah Semarang,” kata Joko.
Adapun titik-titik yang dinilai rawan sebagai tempat beraksinya anjal dan PGOT, antara lain sekitaran Prambanan, Jalan Monjali, simpang Kentungan, Demakijo, dan Flyover Janti.


